Tuesday, 26 February 2019

Materi Pengisian dan contoh soal


7 Komponen Utama Sistem Pengisian Pada Mobil  Beserta Fungsinya

Sistem pengisian pada mobil ternyata tidak hanya dihuni oleh altenator sebagai komponennya. Memang, altenator adalah komponen utama pada sistem pengisian. Tetapi, masih ada sekitar 6 komponen lain dalam sistem pengisian konvensional.
Komponen Sistem Pengisian Beserta Fungsinya
Sebenarnya, sistem pengisian bisa bekerja hanya menggunakan komponen altenator. Tetapi agar dapat digunakan untuk kelistrikan mobil maka perlu komponen-komponen tambahan seperti ;

1. Baterai/Aki

Fungsi baterai adalah sebagai penyimpan energi listrik. Ibarat sebuah gudang, baterai akan menyimpan semua energi listrik yang dihasilkan altenator untuk kemudian energi yang tersimpan ini dikeluarkan saat diperlukan.


Perlu diketahui juga, listrik pada aki itu digunakan hanya saat proses starting dan ketika kelistrikan mobil hidup tapi mesin mati. Sementara saat mesin menyala, arus listrik pada aki akan tetap tersimpan. Hal itu dikarenakan sistem pengisian selain menyimpan energi ke aki juga menyuplai semua kebutuhan listrik.

2. Fuse dan Fuseble link
Fuse dan fuseble link memiliki fungsi yang berbeda meski bentuknya sama. Fuseble link bisa disebut sebagai main fuse yang diletakan didekat terminal positif baterai. Fungsi sekering ini yakni untuk melindungi seluruh sistem kelistrikan mobil dari arus yang berlebih. Umumnya fuseble link memiliki kapasitas hingga lebih dari 60 Ampere.

Sementara fuse digunakan sebagai pengaman satu rangkaian kelustrikan, dalam sistem pengisian konvensional ada dua buah fuse yang memiliki kapasitas sekitar 10-15 Ampere. Satu fuse digunakan sebagai sekering voltage regulator dan sekering lain digunakan untuk mengamankan lampu CHG dan Voltage relay.

3. Lampu CHG


Lampu CHG atau biasa juga disebut charging warning light merupakan lampu indikator yang bisa menunjukan adanya gagal pengisian. Saat kunci kontak ON maka secara normal lampu ini akan menyala, begitupun ketika mesin hidup lampu ini harusnya menyala, jika mati maka bisa mengindikasikan adanya kegagalan pengisian.

4. Kunci kontak

Kunci kontak berfungsi sebagai switch atau saklar. Memang sistem pengapian akan aktif secara otomatis ketika mesin menyala, namun untuk membangkitkan medan magnet pada rotor coil harus dilakukan oleh sebuah switch.

Ignition switch dipakai sebagai saklar rotor coil yang akan aktif saat kunci kontak diputar ke posisi ON.

5. Regulator
Regulator memiliki fungsi sebagai pengatur tegangan output dari altenator. Mengapa harus diatur ? karena tegangan yang duhasilkan altenator itu berbanding lurus dengan RPM mesin. Artinya ketika mesin berada pada RPM rendah maka output altenator juga rendah dan saat RPM mesin tinggi maka output altenator juga tinggi.

Sehingga regulator digunakan agar tegangan output altenator bisa tetap stabil maksimal 14 volt sebelum disalurkan ke kelistrikan kendaraan.

Regulator ada dua macam, yakni tipe point atau konvensional dan tipe IC. Tipe point menggunakan dua buah kumparan untuk mengatur nilai tegangan altenator sementara Regulator IC yang juga disebut sebagai kiprok pada sepeda motor sudah menggunakan rangkaian IC (Integrated Circuit) untuk mengatur tegangan output. Selengkapnya bisa simak 
prinsip kerja Regulator Point.

6. Altenator

Fungsi altenator yakni untuk mengubah sebagian energi putar mesin kebentuk energi listrik AC. Input altenator berasal dari pulley mesin yang terhubung dengan sebuah V belt, didalam altenator putaran rotor akan membuat perpotongan garis gaya magnet dengan stator sehingga terjadilah aliran elektron.
Arus dari stator sebelum disalurkan ke terminal B altenator dihubungkan terlebih dahulu ke Dioda Bridge untuk disearahkan. Mengapa altenator menggunakan arus AC ? alasannya karena daya dan frekuensi yang dihasilkan lebih besar dan stabil sehingga cocok untuk pengisian baterai. Selengkapnya bisa baca cara kerja altenator

7. Kabel Penghubung

Kabel pengubung memiliki tugas untuk menghubungkan tiap terminal pada komponen pengisian, setidaknya ada dua jenis kabel yakni kabel standar dan kabel B+. Kabel standar memiliki diameter seperti kabel kelistrikan mobil pada umumnya, fungsi kabel ini yakni menghubungkan tiap terminal pada seluruh sistem pengisian.

Sementara kabel B+ memiliki diameter lebih besar dari kebel standar dan hampir menyamai kabel stater. Fungsi kabel ini untuk menghubungkan terminal B altenator dengan Baterai.

Cara Kerja Sistem Pengisian ( Charging System ) Konvensional Pada Mobil

Charging system berfungsi untuk mengisi tegangan ke baterai dan komponen - komponen kelistrikan pada saat mesin hidup. Tegangan yang dihasilkan dari generator ( alternator ) yang terpasang di mesin mobil yang dihubungkan dengan pulley poros engkol. Dimana komponen ini merubah gaya mekanik menjadi energi listrik yang besaran outpunya tergantung dari kebutuhan setiap komponen listrik yang ingin disuplay.
Dengan adanya sistem pengisian pada mobil, maka kita tidak perlu mengecas baterai terlalu sering. Kecuali jika terjadi kerusakan pada sistem tersebut, maka tanda - tanda yang bisa kita lihat adalah baterai cepat ngedrop, bentuk baterai yang menggelmbung dan lain - lain.

Adapun kerusakan yang terjadi pada sistem pengisian yaitu :
a. Over Charging  ( kelebihan pengisian )
b. Discharging ( kekurangan pengsian )

Salah satu cara yang paling ,mudah untuk menemukan kerusakan pada sistem pengisian adalah kita paham bagaimana cara kerja sistem pengisian tersebut. Jika kita sudah paham cara kerjanya, maka ketika kita melakukan pengecekan tegangan pada setiap komponen yang ada akan menjadi mudah dengan mengikuti arah aliran arus ( Current Flow ).

Hal mendasar yang harus kita paham bahwa dalam sistem kerja pengisian terbagi menjadi 3 phase, yaitu kunci kontak ON mesin hidup, mesin hidup putaran rendah dan mesin hidup putaran tinggi. 


1. KUNCI KONTAK ON MESIN MATI 
Pada kondisi ini posisi kunci kontak On dan Mesin masih dalam kondisi mati. Ciri - ciri untuk mengetahui sistem pengisian bekerja dengan baik pada posisi ini adalah :

a. Lampu Charging pada dasbord harus hidup ( menyala )
Ini bisa kita lihat dari tanda baterai yang ada pada dasbor mobil kita. Biasanya letaknya berdekatan dengan lampu - lampu indikator yang lain ( seperti lampu indikator oli, ABS, sabuk pengamanan )

b. Terjadi Kemagnetan Pada Alaternator
Ini bisa kita tes dengan menempelkan sebatang besi ke bagian pulley aternator. Perlu diingat bahwa kondisi alternator tidak berputar agar tidak berbahaya.

Arah aliran arus sistem pengsian kunci kontak On mesin mati

a. Arah aliran arus Lampu Pengisian Hidup / ON
Tegangan dari baterai  - melewati fuseblink ( sekering utama ) - masuk ke kunci kontak ( ignition switch ) - masuk ke sekering lampu charging - masuk ke lampu charging - ke terminal L ( lamp ) Regulator - Ke titik Kontak PO - menempel pada P1 - dan terhubung dengan massa ( - ). Maka lampu akan hidup.

b. Arah aliran arus Tejadi Kemagnetan Pada Alternator
Tegangan dari baterai - melewati fuseble link ( sekering utama ) - masuk ke kunci kontak (ignition switch ) - masuk ke sekering pengisian - masuk ke terminal IG regulator - ke titik  kontak PL1 - menempel pada PLo - Keluar ke terminal F regulator - masuk ke terminal F alternator - Ke roto Coil - keluar ke terminal E alternator - ke Massa (-). Sehingga kumparan rotor coil akan menjadi magent.


2. Mesin Hidup Putaran Rendah 
Pada kondisi ini, pengisian yang terjadi relatif besar, dalam artian output tegangan yang dikeluarkan oleh alternator standart sesuai dengan kebutuhan. Walaupun ini tidak mutlak, tetapi pada contoh gambar arah arus dibawah ini adalah alternator yang mengeluarkan tegangan yang standart. Selain tegangan yang standar, pada posisi ini lampu pengisian harus padam ( mati ) untuk menandakan sistem pengisian bekerja dengan baik.

Tegangan standara pengisian 13, 8 volt - 14, 8 Volt.


a. Arah Arus Lampu Pengisian Mati
Tegangan dari baterai - masuk ke fusible link ( sekering utama ) - Masuk ke kunci Kontak ( igniton swith ) - masuk ke fuse lampu charging - masuk ke lampu charging - ke PO - menempel pada P2 ( bermuatan positif ). Maka lampu mati, karena terputus dari titik kontak P1 yang bermuatan negatif baterai.

b. Arah Arus Pengisian Standar di tegangan 13, 8 volt - 14,8 Volt
Tegangan dari baterai - masuk ke fusible link ( sekering utama ) - Masuk ke kunci Kontak ( igniton swith ) - masuk ke fuse pengisian - masuk ke terminal IG Regulator - PL1 dengan PL0 tidak bersatu - sehingga tegangan melawati resistor ( penghambar ) - keluar ke terminal F regulator - masuk ke terminal F alternator - ke rotor coil - keluar ke terminal E - ke massa. Putaran rotor akan membangkitkan tegangan pada stator coil dan mengeluarkan tegangan melalui terminal


  • B ( baterai ) yang mensuplai tegangan ke baterai dan komponen kelistrikan
  • N ( netral ) yang mesuplai tegangan ke voltage regulator yang berfungsi untuk menarik titik kontak PLO agar berpisah dengan titik kontak PL1.


3. Mesin Hidup Putaran Tinggi 
Pada kondisi ini tidak jauh berbeda dengan sistem kerja mesin hidup putaran rendah, dimana lampu charging tetap mati (off), namun  pengeluaran tegangan output relatif lebih kecil. Ini tejadi karena memang tegangan baterai sudah mencukupi.


a. Arah arus tegangan Output Relatif Kecil
Terjadinya kemagnetan yang besar pada voltage regulator mengakibatkan titik kontak PLO menempel pada titik kontak PL2-  tegangan yang masuk dari terminal IG regulator akan masuk ke resistor ( penghambat ) - dan keluar sebagian kecil ke terminal F serta sebagian lagi terbuang ke massa melalui titik kontak PL2 yang terhubung langsung ke massa ( - ). Ketika tegangan yang mesuplay ke roto coil kecil, maka kemagnetan yang tejadi juga kecil. Kecilnya kemagnetaran pada rotor mengakibatkan output yang dikeluarkan juga kecil.


Singkatan - singkatan terminal pada sistem pengisian :
IG   : Ignition  / kunci kontak
N     : Netral / tegangan netral
F      : Field / kumparan
E     : Eart / massa ( negatif )
L     : Lamp / lampu pengisian
B     : Baterai / baterai


SOAL

1. Jelaskan fungsi sistem pengisian
2. Jelaskan 3 tahap kerja sistem pengisian pada kendaraan
3. Sebutkan pemeriksaan yang harus dilakukan pada komponen sistem pengisian
4. Apa yang harus diperhatikan saat menyolder rectifier
5. Jelaskan cara menguji OUTPUT sistem pengisian dengan beban